Ekaandrisusanto's Blog

Just another WordPress.com weblog

MAJAPAHIT KINGDOM EMPIRES THE RISE OF NUSANTARA IN ASIA

with 5 comments

Majapahit Empires Defeat all Malay empires (Malaysia, Singapore & Brunei), indocina (Khmer, Lao), Cham-pa (Vietnam) and madagascar (South africa) and be the biggest empires at south east asia

Aggresion of majapahit empires:

Cina, Keling, Parasi, Egypt, Samudera, Benggala, Makasar, Pahang, Kalantan (Kelantan), Bangka, Buwun, Beten. Tulangbawang, Sela, Pasay (Aceh), Parayaman, Nagara Dekan, Dinah, Andeles (Sumatera), Tego, Maloko (Melacca), Badan, Pego, Malangkabo (West Sumatera), Mekah (Arabic), Buretet, Lawe, Saksak, Se(m)bawa, Bali, Jenggi, Sabini, Ngogan, Kanangen, Kumering, Simpang Tiga, Gumantung, Manumbi, Babu, Nyiri, Sapari, Patukangan, Surabaya, Lampung, Jambudipa, Seran, Gedah, Solot, Solodong, /Bali/. Indragiri, Tanjung Pura, Sakampung, Cempa, Baluk, Jawa

Some italian write that for javanese people at the empire of majapahit (getting from the notes of  Mattiussi Journey to Java),

a man and he is a vendetta  Ordo Fransiskan and from his book “The Journey of vendetta Odorico da Pordenone” write:

“For the long a go the king of  Mongol many time & even though will attacking java, but it always dissmissed/uncomplish and being defeated & hold back again. This is have been realized at the empires of  jayanegara”.

Mongol kingdom have many time to attacking but it always dismissed.

Majapahit Gold

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).

Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.

Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini. Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama : SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Top of a Scepter
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987
Accession Number: 1987.142.184
This artwork is currently on display in Gallery 247

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Nagas and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper Alloy
Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998
Accession Number: 2000.284.29a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Dipasang di atas kapal yang memimpin rombongan ekspedisi, menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji : “Ular-ular Tempur”.

Pataka ini di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari.

Berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan eksis sampai saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Naga and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996
Accession Number: 1996.468a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.

Yang pertama adalah : ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya : ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Raden WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). Kehandalan ADITYAWARMAN sebagai duta lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.

Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai : Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi GAJAHMADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.

Mahapatih Amangkubhumi GAJAHMADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan nusantara lewat SUMPAH PALAPAnya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.

Keteguhan hati sang GAJAHMADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran di separuh kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita INDONESIA Raya yang luas ini.

Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit.

Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun GAJAHMADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.

PUSAKA-PUSAKA MILIK MAJAPAHIT

 Jenis : Pusaka Kubur
Nama : TOPENG KUBUR
Era : Majapahit, Abad ke-14
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Funerary Mask
Period: Eastern Javanese period
Date: 14th century
Culture: Indonesia (Java, Majapahit)
Medium: Gold
Dimensions: Diam. 7 1/2 in. (19.1 cm)
Classification: Sculpture
Credit Line: Gift of The Kronos Collections, 1995
Accession Number: 1995.569.2

 

Jenis : Pusaka
Nama : Liontin KEPALA DEWA SIWA
Era : Majapahit, abad ke-15
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Head of Shiva(?)
Period: Majapahit period
Date: ca. 15th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: H. 1 1/2 in. (3.8 cm)
Classification: Sculpture
Credit Line: Gift of Cynthia Hazen Polsky, 1991
Accession Number: 1991.423.11
This artwork is not on display

Jenis : Pusaka Emas
Nama : LIONTIN KALA
Era : Abad Ke-10
Asal : Jawa Timur
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Rattle with Kala Head
Period: Eastern Javanese period
Date: last quarter of the 10th–last quarter of the 14th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: 2 3/4 in. (7 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.26
This artwork is currently on display in Gallery 247

Jenis : Pusaka Emas
Nama : HULU KERIS
Material : Emas
Era : Perkiraan abad ke 9 – 14
Asal : Jawa Timur
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Weapon Handle with Ganesha
Period: Eastern Javanese period
Date: early 9th–14th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: H. 2 1/8 in. (5.5 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.56
This artwork is currently on display in Gallery 247

Jenis : Pusaka Emas
Nama : HULU KERIS
Material : Emas
Era : Abad ke-15
Asal : Majapahit
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Hilt of a Weapon
Period: Eastern Javanese period
Date: last quarter of the 10th–last quarter of the 15th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions:
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.43
This artwork is currently on display in Gallery 247

Melihat ornamennya yang lengkap sesuai cerita GARUDHA MUKHA dan model hiasannya, saya meyakini arca ini dibuat di era Kerajaan Kahuripan pada abad ke-10 / 11. Sebab ketika era KADIRI dan SINGHASARI, ornamen KURA-KURA tidak digunakan lagi.

Koleksi :
THE BARAKAT GALLERY – Baverly Hills, CA – USA
Gold Sculpture of Vishnu Riding on the Shoulders of Garuda – CK.0051
Origin: Indonesia
Circa: 900 AD to 1300 AD
Dimensions: 7.25″ (18.4cm) high x 3.5″ (8.9cm) wide 989 Grams
Collection: Asian
Style: Javanese
Medium: Gold

Jenis : Arca Emas
Nama : DEWA WISNU
Era : Kerajaan Majapahit, abad ke-14
Koleksi : Museum Eropa (namanya dirahasiakan)

Jenis : Pusaka Kasekten (Kesaktian)
Nama : DURGO NGERIK
Era : Majapahit, abad ke-14
Tangguh : Daha (Kadiri)
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Kris
Date: 18th–19th century
Culture: Javanese
Medium: Steel, gold, and wood
Classification: Krisses
Credit Line:
Edward C. Moore Collection, Bequest of Edward C. Moore, 1891
Accession Number: 91.1.899
This artwork is not on display

Jenis Pusaka : Keris Sikep (Kebesaran)
Dapur : SINGO BARONG Kinatah Emas
Pamor : Lintang Kemukus
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 924-58
Asal Perolehan : Yogyakarta

Satu lagi Pusaka Ampuh MATARAM yang berpamor langka : Lintang Kemukus yang terpasung di luar negeri. Ini bukan satu-satunya pusaka utama kita yang tersandera, ada ribuan dalam database mereka, semoga saya bisa mengakses masuk dan menunjukkan kepada anda semua. Tetapi ada yang sedikit melegakan, rata-rata kondisi pusaka terawat dengan baik, saya dengar mereka malah mempekerjakan orang Indonesia yang paham pusaka guna merawat koleksi museum.

Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 924-58
Material / technique: iron, nickel, gold, silver, brass, copper, wood
Dimensions: L 51 cm, L 41 cm blade, sheath 44 cm L
Date: for 1893

Jenis Pusaka : Tombak Pataka (tempat mengikat bendera Kerajaan)
Nama : KYAI TJAKRA
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 704-15
Asal Perolehan : Yogyakarta
Staatsielans sheath and (say)
Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 704-15
Title: staatsielans sheath and (say)
Material / technique: gold, silver, copper, brass, wood
Dimensions: L 226 cm, 22.5 cm L point, B point 20 cm, 3.2 cm shaft D, L sheaths 11 to 18.8 cm, 2.6 to 10 cm B sheaths
Date: [NI]
Indigenous name: tjakra
Function: status, rank and dignity signs, identifiers
Culture: Yogyakarta
Origin: Yogyakarta

Jenis Pusaka : Tombak Pataka (tempat mengikat bendera Kerajaan)
Nama : KYAI ARDA DEDALI
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 704-13
Asal Perolehan : Yogyakarta
Staatsielans and sheath
Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 704-13
Title: staatsielans and sheath
Material / technique: gold, diamond, wood, silver
Dimensions: L 230 cm x 6.4 cm section 22; D shaft 3 cm x 2.5 cm sheath 17
Date: [NI]
Indigenous name: Arda dedali
Function: status, rank and dignity signs, identifiers
Culture: Yogyakarta
Origin: Yogyakarta

 

Majapahit Artilery

Gajah mada

“Nusantara”, sebenarnya ada hal tersirat, yaitu jajaran pulau-pulau membentang, dengan geografis wilayah laut Indonesia mencapai 75,3% dari total luas wilayah negeri katulistiwa yang keindahannya, sering disamakan dengan “Atlantis yang Hilang”.

Seperti yang telah sering dituliskan bahwa, sejarah selalu menarik dan tidak ada habisnya untuk dicari kebenarannya. Sejarah ibarat mengawal sebuah zaman, menunjukkan bahwa peristiwa saat ini pernah terjadi di masa lalu, meskipun dengan jalan cerita yang berbeda. Namun sejarah memberikan contoh-contoh yang nyata ketika manusia modern sekarang tidak mau berguru pada sejarah, entah itu sejarahnya sendiri ataupun sejarah bangsanya.
Berkaitan dengan sejarah bangsa (Indonesia), negara ini mempunyai sejarah yang luar biasa. Berbagai kerajaan pernah silih berganti menguasai kepulauan ini. Tercatat dua buah kerajaan yang terkenal, yaitu Sriwijaya di Swarnabhumi (sekarang Pulau Sumatra), dan Majapahit di Jawadwipa (Pulau Jawa). Kedua kerajaan itu bahkan memperoleh gelar Kerajaan Nusantara I dan II, karena wilayahnya yang sangat luas.
Kerajaan Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 masehi di Palembang, Sumatra Selatan. Kerajaan ini mempunyai armada laut yang kuat karena terletak di dekat lautan. Dalam perkembangannya, Kerajaan Sriwijaya mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, sama seperti wilayah Indonesia sekarang. Berbagai bangunan peninggalan pun tersebar di Sumatra, seperti Candi Muara Takus, serta berbagai prasasti yang menceritakan tentang kerajaan ini.
Sementara Kerajaan Majapahit berdiri setelah Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singosari membuka hutan di daerah Mojokerto, bernama Hutan Tarik. Bersama beberapa pengikut setianya seperti Ranggalawe, Sora, dan Nambi, Raden Wijaya membangun sebuah kerajaan baru bernama Majapahit ketika ia menemukan banyak Pohon Maja yang rasanya pahit (jawa: pait). Dua kata tersebut kemudian dijadikan satu menjadi Majapahit. Kerajaan ini pernah mendapat ancaman serius dari Kuti, salah seorang anggota Dharmaputra Winehsuka, atau orang-orang yang berjasa untuk Majapahit pada masa Raden Wijaya menjadi raja. Pemberontakan yang dikenal dengan Pemberontakan Kuti itu berhasil menduduki kerajaan, dimana Jayanagara sebagai raja harus mengungsi ke daerah Bedander dengan kawalan pasukan legendaris Bhayangkara di bawah komando Bekel Gajah Mada. Kemudian seperti diceritakan dalam buku-buku sejarah siswa-siwa Sekolah Dasar, dimana akhirnya Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Kerajaan ini juga mempunyai wilayah yang luas, bahkan sampai ke beberapa negara tetangga.
Kemudian diskusi tentang kerajaan-kerajaan tersebut mencapai pertanyaan mengenai kebenaran tentang wilayah Majapahit yang sangat luas (sementara untuk Sriwijaya nampaknya belum ada yang mempertanyakan). Forum-forum online yang mengangkat topik khusus tentang sejarah banyak yang meragukan tentang Majapahit. Meskipun banyak dokumen kuno tentang Majapahit, yang menjadi keraguan adalah tidak adanya bukti fisik, seperti Candi Borobudur misalnya. Bukti-bukti tertulis yang menjadi rujukan utama tentang Majapahit seperti Negarakertagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Sundayana, ataupun Pararaton belum bisa memberikan kepuasan atas pertanyaan itu.
Hal ini sepertinya disebabkan karena beberapa tokoh yang ada dalam sejarah Majapahit sangat misterius. Sebut saja Gajah Mada dan Mpu Prapanca. Keterangan tentang Gajah Mada sangat sulit ditemukan, seperti dimana ia lahir, siapa orangtuanya, istri dan anaknya, dan juga dimana atau bagaimana ia mati; apakah terbunuh atau moksa, semua itu masih misterius meskipun baru-baru ini ada dugaan bahwa Gajah Mada lahir di suatu tempat di Lamongan, Jawa Timur. Ada juga pendapat bahwa ia bukan asli jawa, dengan mangacu pada nama “Gajah”, karena konon di Jawa tidak ada hewan gajah. Mpu Prapanca juga sama, ia tidak diketahui asal usulnya ataupun kisah akhir hayatnya. Sejarah hanya mencatat bahwa ia menulis Kitab Negarakertagama.
Kembali ke pertanyaan tentang keraguan wilayah Majapahit yang sangat luas, dimana tidak ada bukti fisik di daerah-daerah timur jauh seperti Maluku ataupun Papua, mungkin ulasan berikut ini bisa sedikit membantu menjawab pertanyaan di atas. Cita-cita Majapahit untuk memperluas wilayahnya merupakan sebuah niat dari Patih Gajah Mada yang pertama kali dilantik menjadi mahapatih menggantikan Patih Arya Tadah yang telah lanjut usia (pada masa Tribhuwanatunggadewi). Saat itu Gajah Mada mengucapkan sebuah sumpah yang kelak disebut “Sumpah Palapa”, di Bale Manguntur. Isi dari sumpah tersebut adalah tidak akan bersenang-senang sebelum menyatukan Nusantara. Setelah itu, misi menyatukan Nusantara dimulai dengan Majapahit sebagai pusatnya.
Mengapa kata “menyatukan” digaris miring? Perlu diketahui bahwa menyatukan berbeda dengan menguasai. Dalam hal ini menurut pandangan pribadi penulis, bahwa misi Majapahit tersebut berbeda dengan misi Cortez dan Pizarro, yang memusnahkan suku Inca dan Maya di Benua Amerika. Mereka menempatkan sebuah batu bernama Batu Rosetta (Rosetta stone) sebagai bukti bahwa wilayah itu telah menjadi kekuasaan mereka. Sementara Majapahit tidak melakukan hal itu. Ambillah sebagai contoh perbandingan; wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ambil juga peristiwa beberapa waktu lalu dimana isu DIY memisahkan diri ketika hubungan antara wilayah dengan pusat tidak kondusif. Sama dengan kasus ketika Majapahit mulai mundur, banyak wilayah yang ingin memisahkan diri karena pusat (Majapahit) tidak kondusif. Keinginan memisahkan tentu saja merupakan dorongan rakyat pada penguasa wilayah itu (contoh rakyat Yogya dengan Sultan HB). Jika kasusnya adalah Majapahit menguasai daerah lain, maka tentu saja tidak ada penguasa di daerah itu, karena tentu saja telah dimusnahkan. Sementara wilayah Majapahit diperintah oleh adipati (setingkat bupati). Sebagai contoh, Adipati Tuban, yaitu Adipati Wilwatikta yang juga ayah dari Raden Said atau Sunan Kalijaga. Adipati ini mempunyai hubungan khusus dengan pemerintah pusat, seperti halnya saat ini bupati berhubungan dengan gubernur, kemudian gubernur berhubungan dengan pejabat pemerintah yang lebih tinggi, yaitu pemerintah pusat.
Namun Majapahit juga pernah ingin menguasai suatu daerah, yaitu Tanah Pasundan yang saat itu dikuasai oleh Pajajaran. Dalam hal ini Majapahit ingin menguasai karena Sumpah Palapa akan terselesaikan dengan bergabungnya Pasundan ke Majapahit. Di sinilah sifat manusiawi Gajah Mada muncul, yaitu tamak dan tidak sabar. Ia tidak sabar karena hanya kurang satu wilayah untuk menyelesaikan sumpahnya. Maka kemudian terjadilah Pemusnahan Bubat (penulis menggunakan istilah pemusnahan karena saat itu prajurit Pajajaran tidak melakukan persiapan untuk berperang). Persitiwa itulah yang sangat dikenang oleh rakyat Pasundan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa di Jawa Barat tidak ada nama jalan yang menggunakan nama yang berhubungan dengan Majapahit. Peristiwa ini kemudian memberi petunjuk tentang kehidupan dan kematian Gajah Mada. Dalam sumpahnya, Gajah Mada berkata bahwa ia tidak akan bersenang-senang sebelum menyatukan Nusantara, dan hasilnya memang Tanah Pasundan tidak pernah menjadi wilayah Majapahit.
Bersenang-senang bisa diasumsikan sebagai pesta, makan-makan atau hura-hura. Akan tetapi, jika merunut kehidupan masa lalu, dimana manusia masih berperan sebagai manusia, maka bisa diartikan bahwa Gajah Mada tidak mempunyai istri. Bersenang-senang di sini menurut penulis adalah berhubungan intim, karena konon rasa sejati dapat didapatkan ketika berhubungan intim, dan konon pula kegiatan tersebut sangat menyenangkan. Maka, atas dasar itulah, penulis lebih setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa Gajah Mada moksa setelah gagal mewujudkan sumpahnya.
Sementara tentang bukti fisik keberadaan Majapahit yang kurang meyakinkan karena hampir tidak tersisa, nampaknya ketidakyakinan itu segera hilang, karena kolam yang mengelilingi Kraton Majapahit telah ditemukan dan dilakukan penggalian. Bukti fisik lainnya adalah bahwa beberapa kelompok masyarakat mengaku keturunan dari masyarakat Majapahit yang berpindah. Penduduk Bali asli adalah mereka yang tinggal di tepi Danau Batur, Trunyan. Sementara yang lain adalah sisa-sisa Majapahit yang mengungsi sewaktu Majapahit diserang Demak. Di Nusa Tenggara Timur juga terdapat sekelompok masyarakat yang mempunyai ciri-ciri masyakarat Majapahit, yaitu ikatan rambut gulung keeling dan pakaian khas Majapahit. Bahkan lontar Kitab Negarakertagama disimpan oleh seorang tokoh masyarakat daerah itu.
Selain itu, banyak sekali keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ambillah contoh yang bisa dilihat saat ini, yaitu Raja-raja di Kasultanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, juga Puro Mangkunegaran dan Puro Pakualaman. Mereka adalah keturunan langsung dari raja terakhir Majapahit, yaitu dari Brawijaya V yang menurunkan Raden Bondan Kejawan kemudian menurunkan Ki Ageng Getaspendawa, lalu sampai Ki Ageng Sela, kemudian Ki Ageng Ngenis, lalu Ki Gede Pemanahan, kemudian Panembahan Senopati, lalu Sultan Agung dengan trah Mataram hingga saat ini. Selain itu banyak pula tokoh-tokoh lain yang menjadi cikal bakal berbagai daerah di Jawa, bahkan Malaysia (menurut Babad Tanah Jawi, Brawijaya V mempunyai 117 keturunan).
Napak tilas mungkin akan menambah referensi tentang Majapahit, jika menginginkan bukti fisik. Dari Madura, Mangir, Mataram (Yogya-Solo), Sedayu, Demak, Tingkir, Lamongan, Semarang, adalah beberapa tempat yang bisa digunakan untuk mencari tentang eksistensi Majapahit. Akan tetapi jika menginginkan bukti fisik berupa bangunan, bertanya pada arkeolog mungkin akan lebih memuaskan.
Meskipun begitu, banyak yang bisa dipetik dari sejarah Majapahit, diantaranya: sifat pantang menyerah dari Patih Gajah Mada, yang berjuang dari Bekel sampai menjadi Mahapatih Majapahit. Cita-citanya yang menginginkan penyatuan Nusantara, meskipun pada akhirnya ia terpeleset untuk melakukan pembunuhan masal. Yang bisa dijadikan pelajaran adalah usahanya untuk mencapai cita-citanya. Kemudian, kesalahan Patih Gajah Mada yang tidak mendidik atau menyiapkan pengganti dirinya. Dari sini dapat ditarik pembelajaran bahwa apa yang ada pada manusia tidak akan bisa abadi selama masih ada di dunia, baik itu harta ataupun kekuasaan. Maka sifat tamak harus dihindari. Ketika tidak ada orang yang menyamai kehebatannya, maka Majapahit langsung mengalami kemunduran setelah Gajah Mada moksa. Bahkan mengalami perang saudara perebutan kekuasaan sepeninggal Hayam Wuruk.

Itulah gunanya sejarah, dan kadang pertanyaan-pertanyaan seperti itu diperlukan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena jika sejarah mengalami kekeliruan, maka akan membentuk suatu pemahaman yang keliru akan sejarah. Akhirnya, mengutip kalimat dari Presiden Sukarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

Angkatan Laut Majapahit

Konon rahasia kekuatan laut Majapahit sejak jaman Gajah Mada yaitu terletaknya pimpinan yang dipegang oleh Mpu Nala sebagai panglima tertinggi.

Mpu Nala dalam membangun kekuatan laut yang tersohor kala itu, beliau menemukan sejenis pohon raksasa yang dirahasiakan lokasinya, untuk membangun kapal-kapal Majapahit yang berukuran besar di masa itu.

Persenjataan kapal-kapal Majapahit berupa meriam Jawa. Konon Gajah Mada kecil pernah diasuh oleh tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singosari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok. Gajah Mada diajarkan oleh pengasuhnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana.

Selanjutnya Gajah Mada mengembangkan senjata api itu untuk mempersenjatai kapal-kapal perang Majapahit ciptaan Mpu Nala yang istimewa itu, hingga mampu merajai wilayah di perairan Selatan (Nan Yang).

Keturunan Mpu Nala terus melanjutkan kepemimpinan militer Majapahit. Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya apalagi militer laut sudah demikian parah dalam melakukan tindak korupsi di wilayah kekuasaan masing-masing, sehingga rakyat tidak lagi menghormati kekuasaan pemerintahan pusat. Dan menurunkan wibawa Majapahit di kalangan kerajaan taklukannya.

Di masa kehancuran itu Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya. Sehingga seperti yang terjadi kemudian, kekuatan laut yang tersohor di Nan Yang itu saling bertempur satu kapal dengan kapal yang lain.

Kapal-Kapal Majapahit


Kapal Jung, Sang Raksasa Lautan!



kapal borobudur

“Orang Jawa sangat berpengalaman dalam seni navigasi. Mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini. Walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Tionghoa lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa.”

Demikian tulis Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645. Bahkan, pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 itu menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit cokelat seperti orang Jawa. “Mereka mengaku keturunan Jawa,” kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa.

Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik – belakangan disebut sebagai “Kapal Borobudur”.

KONSTRUKSI KAPAL
Konstruksi perahu bercadik sangat unik. Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat. Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.

Kapal Borobudur telah memainkan peran besar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus ratus tahun sebelum abad ke-13. Memasuki awal abad ke-8, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal kapal Jawa yang berukuran lebih besar, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta yang berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14 mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis.

Disebutkan, jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung jawa ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.

“Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa.” tulis pelaut Portugis Tom Pires dalam Summa Orientel (1515). Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dedengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari perairan Malaka.

Jawa

Jawa

Ilustrasi armada VOC
Pernah menjadi penguasa dunia.
Puncak kejayaan Majapahit terukir pada 1450-an. Bayangkan, ketika itu wilayah kekuasaan Jawa mencakup luas mulai dari Nusantara, Indocina, China, dan India. Kejayaan tersebut tak terlepas dari penguasaan teknologi kapal laut yang memang saat ini menjadi satu-satunya transportasi laut yang menghubungkan daerah-daerah kekuasaannya. Kapal Jong Majapahit sangatlah disegani.

Menurut Irawan Djoko Nugroho dalam bukunya Majapahit Peradaban Maritim (2011), jumlah armada Jong Majapahit ketika itu mencapai 400 kapal. Bandingkan dengan armada kapal yang dimiliki VOC (Belanda), EIC, Spanyol, dan Portugis pada tahun sesudahnya (1674). Kalau kekuatan itu digabung, mereka yang menguasai India, Nusantara, Indocina, dan China hanya memiliki 124 kapal.

Sejak Abad III
Berdasarkan catatan sejarah dari China dan Portugis, Jawa atau Nusantara melakukan berbagai pelayaran menyeberangi Samudra Hindia dengan kapal besar ke Madagaskar pada abad ke-3 hingga ke-17. Kapal berbobot lebih dari 500 ton itu tentu saja termasuk kapal tercanggih di zamannya. Bukan apa-apa, kapal layar berukuran panjang sekitar 70 meter itu mampu membawa penumpang sebanyak 600 orang.

Kapal-kapal itu biasanya dilengkapi dengan empat layar yang terbuat dari tanaman yang dianyam. Ketika angin berembus, layar-layar itu mudah digerakkan sesuai arah angin. Dengan demikian, laju kapal dapat bergerak lincah sesuai tujuan. Sekali lagi, Jawa telah menunjukkan penguasaan teknologi maritimnya. Coba bandingkan dengan kapalkapal perintis yang dibuat bangsa Eropa.

Kapal Gracedieu buatan Inggris pada 1418 misalnya, memiliki panjang hanya 54 meter. Lagi pula kapal ini tak mampu berlayar. Bertahun-tahun hanya mengapung dan akhirnya ludes terbakar dilalap si jago merah. Lalu, diluncurkan Kapal Christoporus Columbus pada 1492 dan Vasco da Gama (1497). Kapal-kapal tersebut hanya memiliki kapasitas masing-masing 88 dan 171 penumpang.

“Kapal-kapal besar Eropa baru hadir setelah melewati hubungan interkasi dengan kapal-kapal yang digunakan di wilayah-wilayah yang mendapat pengaruh kuat dari Jawa,” ungkap Irawan. Fakta tersebut menunjukkan, perdagangan yang dikelola Jawa jauh melampaui gabungan pedagang besar di wilayah Eropa.

Kedigdayaan Jawa ketika itu benar-benar tak ada yang mampu menandinginya. Dengan armada laut yang kuat dan gagah perkasa itulah, para pendahulu kita mampu mengendalikan pelabuhan-pelabuhan yang menjadi sumber perekonomian Nusantara. Tak berlebihan kalau tempo dulu (abad ke-12) Jawa sangat termasyhur di jagat raya.

Bahkan seorang ekonom China pernah menulis, dari semua kerajaan asing yang kaya raya (memiliki cadangan devisa berlimpah ruah), kehebatan bangsa She-p’o (Jawa) berada di urutan kedua setelah bangsa Ta-shih (Arab). Urutan ketiga ditempati San-fo-Chi (Sriwijaya). Marco Polo mengungkapkan, jumlah emas yang dikumpulkan Majapahit lebih banyak daripada yang dihitung dan hampir tidak dapat dipercaya. Jawa menjadi pemegang rekor sebagai kerajaan yang paling banyak memiliki cadangan logam mulia tersebut.

Uniknya lagi, cadangan tersebut bukan berasal dari perut bumi di tanah Jawa. Bongkahan emas-emas itu dikumpulkan melalui aktivitas pengendalian pelabuhan-pelabuhan di dunia. Saking kaya rayanya Jawa, membuat bangsa Mongol pernah menargetkan penyerangan besar-besaran di wilayah Jawa yang berada di Samudra Selatan (Samudra Hindia). Namun mereka tak pernah berhasil mewujudkan impiannya itu.

Barus dan Cengkeh
Selain menguasai teknologi perkapalan dan navigasi (peta), Nusantara juga diperkuat dengan kekuatan agraris yang tiada tara. Dari ujung daratan Sumatra Utara, tepatnya di Kota Barus, dulu dikenal sebagai penghasil kapur barus yang diperoleh dari pohon kamper (Dryobalanops aromatica). Barus sudah menjadi catatan tertua ahli filsafat termasyhur dari Alexandra, Ptolemaeus sebagai penghasil bahan pengawet yang harganya melebihi emas.

Sudah menjadi rahasia umum kalau jasad Raja Mesir Kuno, Firaun masih utuh hingga kini lantaran dibalsem dengan menggunakan kapur barus asal Nusantara. Sejarah mencatat, sejak tahun 3000 Sebelum Masehi (SM), kapur barus telah melanglang buana ke Mesir. Hal ini menunjukkan, Jawa dan Mesir sudah lama melakukan diplomasi niaga melalui armada laut. Kapur barus ini sudah diniagakan sejak 6.000 tahun silam.

Tak ada cara lain, perdagangan tersebut dapat terjadi melalui angkutan kapal laut. Bergeser ke timur, tepatnya di Maluku, juga terhampar luas cengkeh yang kelak di kemudian hari membuat Belanda sangat bernafsu untuk menguasainya. Catatan mengenai popularitas cengkeh dari Maluku dikemukakan arkeolog Giorgio Buccellati. Dari rumah seorang pedagang di Terqa, Efrat Tengah pada 1700 SM, ia menemukan wadah berisi cengkeh.

Ketika itu di dunia, cengkeh hanya diketahui dapat tumbuh di pulau-pulau kecil di Maluku. Rempah-rempah ini telah menjadi barang berharga bagi para pembesar yang dapat digunakan untuk aneka keperluan mulai dari perasa makanan, minuman, obat-obatan, dan rokok lantaran memiliki cita rasa prima. Cengkeh Maluku bisa sampai ke Efrat tersebut berkat peran para pelaut Jawa yang dengan gagah berani mampu menaklukkan samudra luas hingga ke Timur Tengah, Eropa, dan Cina.

Kalau sekarang ini ekonomi Indonesia terpuruk dan kalah jauh dibandingkan dengan kekuasaan Jawa tempo dulu, tentu ada yang salah dalam membangun dan menata bangsa ini. Laut yang harusnya menjadi pemersatu bangsa terkesan dibiarkan, tak diurus sebaik-baiknya. Terbukti, pelayaran niaga yang melayani ekspor-impor di perairan Nusantara kini dikuasai asing.

Dari seluruh kapal niaga yang melayani kebutuhan tersebut, hanya 10 persen yang berbendara Indonesia. Sisanya, yang 90 persen dioperasikan oleh pihak asing. Ya, kini kita seperti menjadi penonton di rumah sendiri. Kita telah tega meninggalkan sejarah gemilang yang telah terukir itu. b siswo

Agar Nusantara Kembali Bersinar
Rakyat Jawa telah menjelma menjadi budak-budak dari kolonialis tersebut.

Popularitas Jawa (Nusantara) mulai meredup ketika para penguasa melupakan lautnya. Itulah yang tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa. Dominasi niaga laut Jawa berakhir saat panglima Pajang Senapati memberontak terhadap ahli waris sah Kerajaan Pajang. Lebih dari itu, Senapati malah membubarkan dan menelantarkan armada laut yang selama ini menjadi kedigdayaan Nusantara.

Ia mengisolasi Jawa dari luar. Akibatnya, dominasi negara maritim yang pernah berjaya itu terus meredup. Apalagi para penerus Panembahan Senapati senantiasa menakutnakuti rakyatnya agar tidak melaut dengan kisah angker Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan Jawa. Perilaku raja yang meminggirkan negara maritim dan melupakan sejarah kejayaan sebagai penguasa dunia itu mengakibatkan Jawa kian terpuruk.

Hal ini pula yang mendorong bangsa Eropa, khususnya Belanda, dengan mudah menaklukkan Jawa. Sebagaimana dikatakan Raja Mongol, Kubilai Khan, jika pasukan Mongol mampu mengalahkan Jawa maka negara-negara lain akan tunduk dengan sendirinya. Ia yakin dengan ucapannya itu karena memang tidak mudah menaklukkan tentara dan dominasi niaga yang dibangun Jawa. Sepanjang kariernya, Mongol kalah telak melawan pasukan perang dari Jawa. Prediksi Kubilai Khan memang benar.

Ketika Belanda berhasil menaklukkan dan menguasai Jawa dengan mudah karena memang minim perlawanan dari penguasa Jawa, sejak saat itulah VOC terus berkibar. Ia memonopoli perniagaan hampir setara dengan yang dikuasai Jawa. Sejak itulah, hari demi hari Jawa penuh dengan kegelapan. Nasibnya serupa dengan Eropa pasca-Romawi. Bahkan lebih tragis lagi, rakyat Jawa telah menjelma menjadi budak-budak dari kolonialis tersebut.

Karena itu, pesan Pontjo Sutowo, Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, tampaknya dapat menjadi renungan bagi kita semua. Ia mengatakan, jika kita ingin mewujudkan kehidupan masyarakat bangsa yang maju, modern, sejahtera, dan menjadi adidaya maka kita harus tetap di laut dan menguasai kembali lautan. “Karena itu kita harus menyatukan tekad untuk membangun patriotisme baru yang memiliki akar sejarah yang kuat. Yakni, semangat maritim dengan nilai-nilai budaya kemaritimannya,” ujar Pontjo.

Dengan kata lain, Indonesia dapat bersinar lagi di kancah perekonomian global jika dan hanya jika seluruh pemimpin negeri memiliki kebijakan kuat di laut. Apalagi sekitar 70 persen wilayah Indonesia berupa laut. Tak hanya itu. Indonesia adalah negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Dengan keunggulan komparatif tersebut dan didukung sejarah budaya maritim yang kuat, dan kemauan untuk berubah maka niscaya kita mampu mengembalikan kejayaan Nusantara di masa silam.

Surya Majapahit (sebagai pertanda bukti kekuasaan majapahit di suatu daerah yang dikuasai)
Image

 

Image
Image
Ibu KOta Majapahit

Mata Uang Emas Majapahit
Koin Emas Majapahit
Mata Uang Perak Majapahit
Huruf2 Abjad Palawa
Diperkirakan, tulisan dikenal di Nusantara dari para pedagang India selatan; Chola dan Palawa. Dalam Carita Parahiyangan, Pustaka Wangsakerta, disebutkan bahwa pendiri Salakanagara (kerajaan paling tua) adalah seorang utusan dari Palawa yang menikahi putri Aki Tirem, penghulu di Pandeglang.

Hampir semua (jika tidak malah semuanya ) abjad tradisional yang ada di Indonesia adalah turunan dari huruf-huruf Palawa. Media tulis yang umum adalah berbagai jenis daun palem: kelapa, nipah (kirai), nira (kawung), dan lontar (siwalan), namun yang paling sering digunakan adalah daun lontar; mungkin karena paling halus. Tulisan di-gurat memakai pisau khusus (pangot/pengropak/pengutik) kemudian dilumuri jelaga atau tumbukan kemiri yang telah dibakar hingga agak hitam, sehingga tulisan terlihat/muncul sebagai guratan hitam di atas daun.

Saat ini, lontar-lontar (meskipun tidak semuanya menggunakan bahan daun lontar) bersejarah disimpan di berbagai tempat di Indonesia maupun luar negeri. Perpustakaan Nasional, Keraton Solo, dan Gedong Kirtya di Bali adalah beberapa tempat dengan koleksi lontar paling banyak di Indonesia. Sedangkan perpustakaan KITLV di Leiden, Belanda adalah tempat di luar negeri yang juga memilki koleksi cukup banyak.

Mpu Prapanca dalam Nagarakretagama menuliskan aktivitasnya selama menyusun lontar tersebut:

Pupuh XCIV

2. Tahun Saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan aswina hari purnama, Siaplah kaka.win pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara, Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut desawarnana, Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.

3. Sia-sia lama bertekun menggubah kaka.win menyurat di atas daun lontar, Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”, Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita“Sugataparwa”, Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.

4. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kaka.win, Terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat puja sastra, Berupa karya kaka.win, sederhana tentang rangkaian sejarah desa, Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh XCVI
1. Pra panca itu pra lima buah, Cirinya: cakapnya lucu, Pipinya sembab, matanya ngeliyap, Gelaknya terbahak-bahak.

2. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru, Bodoh, tak menurut ajaran tutur, Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa, Pantasnya ia dipukul berulang kali.

Dan  Berikut adalah merupakan komentar dan pemaparan oleh penulis dari bangsa cina tentang kerajaan majapahit  pada masa itu:
Terdapat banyak orang kaya di sini. [uang] koin tembaga dari berbagai dinasti (Cina) digunakan [sebagai alat tukar dan] untuk berdagang.

T U L I S A N

Mereka memilki [sejenis] huruf untuk menulis yang memilki kesamaan dengan huruf-huruf So-li (Chola, negeri di India Selatan. Dapat juga diartikan sebagai Palawa, karena menempati wilayah dan budaya yg mirip). Mereka tidak memiliki kertas ataupun kalam [untuk menulis, tapi] menggunakan lembaran daun chiao-chang (kajang=kelapa; melayu. Meskipun daun kelapa maupun nipah/kirai juga digunakan sebagai media menulis, namun, umumnya, yang digunakan adalah daun lontar/siwalan yang memiliki tekstur dan serat yang lebih halus) dimana mereka mengerat (menggariskan) huruf-huruf di atas-nya dengan sebilah pisau. Mereka juga memilki tata-bahasa. Bahasa [yang digunakan di] negeri ini [terasa] sangat indah dan lembut.

UKURAN DAN SATUAN

Mengenai ukuran berat (baca: massa) [yang digunakan]; satu chin [Jawa] adalah (baca: sebanding dengan) duabelas liang [Jawa], satu liang [Jawa] adalah enambelas ch’ien [Jawa], satu ch’ien [Jawa] adalah empat ku-pang (gobang/benggol). [Dimana] satu ku-pang sebanding dengan dua fen [tambah] satu li [tambah] delapan hao [tambah] tujuh ssu [tambah] lima hu, dari ukuran [batu timbangan] resmi yang digunakan di Cina (lit. yang kita gunakan). [Sedangkan] satu ch’ien [Jawa] sebanding dengan delapan fen [ditambah] tujuh li [ditambah] lima hao, dari ukuran resmi yang digunakan di Cina. Satu liang [Jawa] sebanding dengan satu liang [ditambah] empat ch’ien, dari ukuran resmi yang digunakan di Cina. [Dan] satu chin [Jawa] sebanding dengan duapuluhdelapan liang, dari ukuran resmi yang digunakan di Cina. (ket; bayangkan pengukuran dengan dacin/batang timbangan, dengan berbagai jenis batu timbangan. Beban ditempatkan di satu sisi dan batu timbangan di sisi lainnya. Jika jenis paling besar sudah mentok [jika ditambah satu lagi malah menyimpang] maka ditambahkan jenis batu timbangan yang lebih kecil hingga mentok [jika ditambah satu lagi malah menyimpang], maka ditambahkan lagi dengan yang lebih kecil, dan seterusnya, hingga batang dacin benar-benar lurus/seimbang. tambahan; terdapat satuan KATI yang umum digunakan pada masa Hindia Belanda, yang sebanding dengan 16 TAHIL/tael)

Mengenai ukuran isi/volume [yang digunakan]; mereka menggunakan takaran bambu untuk membuat sheng (lit. mereka memotong sebilah bambu untuk membuat sebuah sheng, mungkin yg dimaksud adalah takaran, seperti takaran beras yang ada di pasar-pasar, dari bambu, yang mungkin juga digunakan untuk menakar cairan; misalnya minyak). Ini adalah satu ku-la (kulak), yang sebanding dengan satu sheng [ditambah] delapan ko, dari ukuran resmi yang digunakan di Cina. Sedangkan [satuan] tou (ukuran volume yg lebih besar) Jawa, satu tou adalah satu nai-li (mungkin dari tilik?nilik?nilih, suatu satuan volume kuno, dalam pengertian “mengetahui” [isi]) yang sebanding dengan satu tou [ditambah] empat sheng [ditambah] empat ko, dari ukuran resmi yang digunakan di Cina.

PERAYAAN TERANG BULAN

Pada malam ke limabelas atau enambelas dari setiap bulan, ketika [cahaya] bulan [bersinar] penuh, cerah dan terang, lebih dari duapuluh, atau sering kali lebih dari tigapuluh orang, wanita pribumi berkumpul, membentuk suatu perayaan [terang bulan]. Seorang wanita bertindak sebagai pimpinan sedangkan yang lain saling memegang pundak, membentuk barisan, lalu berkeliling di bawah sinar bulan. Sang pemimpin menyanyikan lagu khusus yang [kemudian] dijawab secara bersama-sama oleh yang lain. Ketika rombongan ini melewati beranda rumah keluarga atau rumah orang kaya atau kediaman pejabat, mereka [akan] diberi hadiah keping-keping tembaga atau hadiah lain. Ini dinamakan “nyanyian terang bulan.”

W A Y A N G ?

Mereka memiliki sekelompok laki-laki yang membuat berbagai lukisan pada [lembaran] kertas (mungkin juga kain atau kulit), seperti: manusia, burung, hewan buas, elang, atau serangga. Lukisan-lukisan ini mirip dengan gambar-gulung [di negeri Cina]. Sebagai penyokong [agar gambar terbuka, tidak menggulung], mereka menggunakan dua bilah batang kayu, setinggi tiga ch’ih (dibuat berdiri), [satu batang ditempatkan] sejajar dengan [garis-batas] kertas di [kedua] ujung [kiri dan kanan]. (Mungkin yang dimaksud adalah wayang beber.)

Dengan duduk bersila di atas tanah, laki-laki tersebut [lalu] mengambil lukisan-lukisan [tadi] dan menancapkannya di tanah. Setiap kali dia membuka dan memperlihatkan satu bagian lukisan, dia menyodorkannya ke depan para penonton, dan berbicara nyaring. Dia menjelaskan [cerita yang ada di dalam] lukisan tersebut, sedangkan orang-orang duduk berkerumun mengelilinginya. Sesekali mereka tertawa, sesekali menangis, persis seperti keadaan seorang pembicara yang membacakan roman-roman populer [di negeri Cina].

EKSPOR-IMPOR
Orang-orang pribumi sangat menyukai porselen-biru dari negeri Cina, begitu juga dengan wewangian (musk/misik), kain halus (lit. rami-sutra) bergaris emas, dan manik-manik. Mereka membelinya dengan keping-keping tembaga.

Raja Jawa (lit. negeri ini) terus mengirim utusan-utusan yang memuat barang-barang hasil negeri mereka, untuk dikirim sebagai hadiah ke negeri Cina.

Wayang Beber

Demikian, tulisan ini rampung hingga bagian terakhir dari bahasan “Jawa” pada kitab ???? (Ying-yai Sheng-lan) yang diterjemahkan dalam Ying-yai Sheng-lan (The Overall Survey of the Ocean’s Shores), Ma Huan, annotated by Feng Chenjun, annotated in English translation by J.V.G. Mills, the Hakluyt Society, Cambridge, 1970. Dengan tambahan dan gambar-gambar pendukung yang diambil dari berbagai sumber.

Semoga dapat memberi manfaat bagi agan-agan sekalian. TS memohon maaf, atas segala kekurangan yang ada.


 

Written by gresik troops army

April 3, 2012 at 8:12 am

Ditulis dalam Fashion & news

Tagged with

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Terima kasih untuk artikelnya yg cukup lengkap tentang Kerajaan Majapahit…..semoga lebih banyak lagi artikel yg seperti ini, saya tertarik topik yg berhubungan dgn Indonesia pra sejarah…..apakah ada artikel tentang kerajaan Singosari, Kutai dll ?

    Ayu dwi

    September 5, 2012 at 9:35 am

  2. bangga + sedih gan
    Bangga Punya nenek moyang yang hebat
    Sedih gak ad yg isa nerusin, peninggalanya aja diambil orang.. T_T

    Xin

    Desember 28, 2012 at 4:31 am

    • Jgn sedih gan, kuatkan hati dan jiwa.
      Bangkit dan kembalikan kejayaan silam.

      FMN

      Juni 24, 2013 at 9:30 am

  3. Matur nuwun, badhe nderek berbagi wonten facebokk mugi keparing.Untuk bekal mendidik anak cucu untuk menghadapai masa depan bangsa dan negara Nusantara tercinta.
    Semoga masih ada proyantun yang selalu mengingatkan tentang kebesaran dan cita2 luhur bersama, Amin

    Budhi Subroto Oboth

    Juli 1, 2013 at 1:04 pm

  4. Terima kasih blognya lengkap banget sy bangga sebagai bangsa indonesia. Ayo kita kembalikan lg kejayaan majapahit

    riko

    Agustus 9, 2013 at 8:19 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: